Rabu, 17 April 2013

Porter’s 5 Forces Strategy and 3 Generic Strategies Porter 7 Eleven



NAMA : 
- ADITYA RAHMAN (1401112840)
- JACKY LIM (1401129072)

Sejarah Singkat 7-Eleven di Dunia
7-Eleven pertama kali didirikan pada tahun 1927 di Dallas, Texas , Amerika Serikat. Yang merupakan toko ritel jaringan atau convenience store. Nama dari 7 Eleven mulai digunakan pada tahun 1946. Dulunya 7-Eleven hanya buka dari jam 7 sampai jam 11 malam. Pada tahun 1962 di kota Austin, Texas, Gerai pertama 7-Eleven buka 24 jam.
Karena Southland Coorporation mengalami kesulitan financial dan hampir mengalami kebangkrutan akhirnya menjual sebagian besar sahamnya kepada perusahaan jaringan supermarket Jepang, ItoYokado. Dan akhirnya Southland Corporation merubah namanya menjadi 7 Eleven, Inc pada tahun 1999. Dan semenjak tahun 2005 kepemilikan dari 7 Eleven dimiliki oleh Seven & I Holdings Co., Ltd yang berpusat di jepang.
Sejarah Singkat 7-Eleven di Indonesia
7-Eleven pertama kali hadir di Indonesia pada tahun 1990 namun karena perselisihan internal diantara pemegang saham nya jadi 7-Eleven tidak pernah terdengar sampai 2009.
Di Indonesia, 7-Eleven dipegang oleh PT. Modern Putra Indonesia . Gerai pertama nya pada tanggal 7 November 2009 di daerah Bulungan,Jakarta Selatan. Sampai awal 2013 saja sudah lebih dari 122 Gerai dijakarta. Boleh dikatakan 7-Eleven adalah salah satu pemain kuat Waralaba dengan konsep “convenience store” yang terbilang sukses. 7-Eleven juga mempunyai website sendiri yaitu http://www.7elevenid.com


Analisis Porter’s 5 Forces Strategy pada Bisnis 7-Eleven
Porter 5 Forces pertama kali dikembangkan oleh Michael Porter. Tools ini sangat berguna bagi para Perusahaan yakni kita dapat mengerti situasi bisnis yang sedang dijalankan lalu mengerti juga Keunggulan, Kekuatan , mengantisipasi Kelemahan dan agar perusahaan terhindar mengambil Keputusan yang salah. Nah disini saya akan menkoversikan bisnis 7-Eleven kedalam Strategi 5 forces :
1)      Ancaman Pesaing Lama
Ancaman dari para pesaing sangat kuat. Persaingan dalam industri waralaba dengan konsep Retail dengan 7-Eleven semakin banyak dan berkembang di Indonesia. Dari tahun ke tahun banyak gerai-gerai baru di buka. Kita lihat saja Indomaret dan Alfamaret. Mereka ada dimana-mana , dengan jarak hanya beberapa KM saja kita bisa melihat gerai Indomaret maupun Alfamaret. Tidak hanya dikota-kota besar tetapi sekarang mereka sudah masuk ke desa-desa kecil. Untuk pesaing berat 7-Eleven sendiri ada Lawson dan Circle K karena selain menjual barang kebutuhan sehari-hari seperti mie instan, sabun, rokok , dll tapi juga menjual Produk makanan dan minuman orisinil dan juga beberapa menu lain nya yang ditawarkan kepada konsumen. Produknya juga merupakan campuran produk Indonesia dengan Produk Luar negeri. Di daerah binus sendiri 7-Eleven dengan Lawson dan Circle K berdekatan sekali. Karena pangsa pasar mereka lebih kepada anak muda seperti mahasiswa. Toko retail seperti ini Produk yang ditawarkan sejenis dan tidak ada difrensiasi produk. Jadi Konsumen biasanya hanya melihat dari murahnya produk yang dijual, kenyamanan berbelanja dan biasanya konsumen memilih gerai yang paling dekat dengan rumah mereka.
2)      Ancaman Pendatang Baru
Ancaman Pendatang baru bagi Perusahaan Retail seperti 7 Eleven memang makin banyak terlihat tetapi sangat lemah. 7 Eleven sendiri adalah ancaman baru bagi perusahaan-perusahaan retail yang ada di Indonesia seperti Indomaret dan Alfamaret karena 7 Eleven selain menjual Produk sehari-sehari tetapi juga menjual menu-menu makanan dan minuman yang bisa dimakan langsung. Untuk pendatang baru sangat susah untuk masuk ke industri ini karena dibutuhkan diferensiasi produk yang berbeda untuk menarik konsumen. Untuk memikirkan dan melakukan diferensiasi produk dibutuhkan biaya yang besar. Loyalitas konsumen juga bermain disini . apabila konsumen sudah jatuh hati terhadap 1 produk , maka pendatang baru akan kesulitan dan menjadi penghalang besar. Investasi yang besar juga sangat dibutuhkan bagi pendatang baru.
3)      Ancaman Produk Pengganti
Ancaman Produk pengganti sendiri sangat kuat karena di Indonesia sendiri perusahaan retail sangat berkembang dengan keanekaragaman produk. 7-Eleven bisa juga bersaing dengan restaurant karena sama-sama menjual produk menu-menu makanan dan minuman yang lebih banyak dan beragam menunya. Retail-Retail kecil seperti warung menjadi ancaman karena lebih dekat dengan rumah dan ada dimana-mana. Atau pasar yang harganya lebih murah dan produknya beragam bisa menjadi barang subtitusi. Produk seperti makanan , minuman, peralatan rumah tangga dijual di pasar tradisional. Bisa jadi Konsumen akan lebih memilih pasar tradisional karena selain semua produk ada disana . harganya pun bisa di tawar.
4)      Daya Tawar Pemasok
Bisa dikatakan daya tawar pemasok adalah lemah. Karena 7 eleven adalah Perusahaan waralaba retail jadi pemasok/supplier nya sudah ditentukan dari mana saja datangnya. 7 eleven tidak bisa menentukan sendiri suppliernya karena sudah di tentukan oleh PT. Modern Putra Indonesia. Dengan produk yang beragam dari kebutuhan rumah tangga, makanan, minuman , ini menjadikan 7 eleven salah satu “convenience store” yang baik di Indonesia.
5)      Daya Tawar Pembeli
Bisa dikatakan daya tawar pembeli lumayan kuat.  7 eleven menjual kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan konsumen . tetapi 7 eleven sudah menetapkan harga yang tidak bisa ditawar tetapi tidak terlalu mahal , 7 Eleven harus tau harga dikarenakan rata-rata masyarakat Indonesia sangat sensitive terhadap harga. tetapi dengan fasilitas yang disediakan dan pelayan yang baik 7 eleven  mampu menarik pembeli terutama anak muda. Karena 7 Eleven adalah perusahaan retail waralaba maka harganya sudah ditentukan. Dan tidak ada perbedaan di gerai 7 eleven manapun.



3 Generic Strategies Porter

3 generic strategies porter, adalah suatu gagasan yang dikemukakan oleh Michael Porter yang menjelaskan 3 jenis strategi yang umum digunakan perusahaan dalam mencapai dan menjaga keunggulan kompetitifnya. Pada awalnya ia mengelompokkan strategi keunggulan kompetitif tersebut menjadi kubus-kubus dengan dimensi 3x3x3 yang dibagi berdasarkan level perbedaan, biaya produk relatif, dan cakupan target pasar. Namun dari 27 strategi yang terbuat sebelumnya, ditemukan terdapat banyak terdapatkan strategi yang tidak wajar dan/atau tidak dapat diterapkan. Maka kemudian dikemukakanlah 3 generic strategies for Competitive Advantages ini dimana strategi keunggulan kompetitif hanya dibagi menjadi 2 dimensi, dilihat dari cakupan target pasar, dan cara penerapan strategi pemasaran. Dan hasilnya membuahkan 3 buah strategi seperti yang ditunjukkan oleh gambar berikut.


Differentiation Strategy adalah suatu strategi dimana perusahaan berusaha meningkatkan keunggulan kompetitifnya dengan menciptakan perbedaan antara produk dari perusahaan dengan produk-produk dari perusahaan saingan. Ada juga keadaan dimana strategi ini akan lebih baik diterapkan jika target pelanggan merupakan golongan-golongan yang tidak sensitif dengan harga, pelanggan memiliki kebutuhan yang sangat spesifik sehingga tidak dapat dipenuhi perusahaan lainnya, dan sebagainya.

Cost Leadership Strategy adalah suatu strategi dimana perusahaan berusaha meningkatkan keunggulan kompetitifnya dengan menciptakan perbedaan harga antara produk-produknya dibandingkan perusahaan lainya. Terdapat keadaan dimana strategi ini akan lebih efektif jika diterapkan pada target pelanggan yang tergolong sebagai yang sensitif terhadap harga. Strategi ini dapat tercapai dengan memiliki harga termurah pada segmen pasar, maupun memiliki perbandingan harga terhadap nilai produk yang paling rendah (perbandingan antara harga dengan apa yang diterima pelanggan).

Segmentation Strategy adalah suatu strategi yang meningkatkan keunggulan kompetitif dengan menerapkan kedua strategi sebelumnya bukan pada pasar secara umum, namun untuk segmen pasar yang lebih kecil dan spesifik.

Strategi yang diterapkan oleh Seven Eleven untuk mendapatkan suatu keunggulan kompetitif menurut kelompok kami adalah dengan menerapkan Differentiation Strategy karena dari yang dapat kita lihat, Seven Eleven harga-harga produk yang dijual di Seven Eleven tergolong menengah ke atas, namun produk-produk yang dapat ditemukan di Seven Eleven tergolong unik dan tidak mudah untuk ditemukan di gerai-gerai lainnya. Contohnya adalah produk minuman yang menjadi karakteristik dari gerai Seven Eleven yaitu “Slurpee” dan “Big Gulp”. Produknya unik, tidak mudah ditemukan di gerai lainnya, dan harga-harganya tidak ditargetkan untuk murah.




Tidak ada komentar :

Posting Komentar