Rabu, 17 April 2013

Porter’s 5 Forces Strategy and 3 Generic Strategies Porter 7 Eleven



NAMA : 
- ADITYA RAHMAN (1401112840)
- JACKY LIM (1401129072)

Sejarah Singkat 7-Eleven di Dunia
7-Eleven pertama kali didirikan pada tahun 1927 di Dallas, Texas , Amerika Serikat. Yang merupakan toko ritel jaringan atau convenience store. Nama dari 7 Eleven mulai digunakan pada tahun 1946. Dulunya 7-Eleven hanya buka dari jam 7 sampai jam 11 malam. Pada tahun 1962 di kota Austin, Texas, Gerai pertama 7-Eleven buka 24 jam.
Karena Southland Coorporation mengalami kesulitan financial dan hampir mengalami kebangkrutan akhirnya menjual sebagian besar sahamnya kepada perusahaan jaringan supermarket Jepang, ItoYokado. Dan akhirnya Southland Corporation merubah namanya menjadi 7 Eleven, Inc pada tahun 1999. Dan semenjak tahun 2005 kepemilikan dari 7 Eleven dimiliki oleh Seven & I Holdings Co., Ltd yang berpusat di jepang.
Sejarah Singkat 7-Eleven di Indonesia
7-Eleven pertama kali hadir di Indonesia pada tahun 1990 namun karena perselisihan internal diantara pemegang saham nya jadi 7-Eleven tidak pernah terdengar sampai 2009.
Di Indonesia, 7-Eleven dipegang oleh PT. Modern Putra Indonesia . Gerai pertama nya pada tanggal 7 November 2009 di daerah Bulungan,Jakarta Selatan. Sampai awal 2013 saja sudah lebih dari 122 Gerai dijakarta. Boleh dikatakan 7-Eleven adalah salah satu pemain kuat Waralaba dengan konsep “convenience store” yang terbilang sukses. 7-Eleven juga mempunyai website sendiri yaitu http://www.7elevenid.com


Analisis Porter’s 5 Forces Strategy pada Bisnis 7-Eleven
Porter 5 Forces pertama kali dikembangkan oleh Michael Porter. Tools ini sangat berguna bagi para Perusahaan yakni kita dapat mengerti situasi bisnis yang sedang dijalankan lalu mengerti juga Keunggulan, Kekuatan , mengantisipasi Kelemahan dan agar perusahaan terhindar mengambil Keputusan yang salah. Nah disini saya akan menkoversikan bisnis 7-Eleven kedalam Strategi 5 forces :
1)      Ancaman Pesaing Lama
Ancaman dari para pesaing sangat kuat. Persaingan dalam industri waralaba dengan konsep Retail dengan 7-Eleven semakin banyak dan berkembang di Indonesia. Dari tahun ke tahun banyak gerai-gerai baru di buka. Kita lihat saja Indomaret dan Alfamaret. Mereka ada dimana-mana , dengan jarak hanya beberapa KM saja kita bisa melihat gerai Indomaret maupun Alfamaret. Tidak hanya dikota-kota besar tetapi sekarang mereka sudah masuk ke desa-desa kecil. Untuk pesaing berat 7-Eleven sendiri ada Lawson dan Circle K karena selain menjual barang kebutuhan sehari-hari seperti mie instan, sabun, rokok , dll tapi juga menjual Produk makanan dan minuman orisinil dan juga beberapa menu lain nya yang ditawarkan kepada konsumen. Produknya juga merupakan campuran produk Indonesia dengan Produk Luar negeri. Di daerah binus sendiri 7-Eleven dengan Lawson dan Circle K berdekatan sekali. Karena pangsa pasar mereka lebih kepada anak muda seperti mahasiswa. Toko retail seperti ini Produk yang ditawarkan sejenis dan tidak ada difrensiasi produk. Jadi Konsumen biasanya hanya melihat dari murahnya produk yang dijual, kenyamanan berbelanja dan biasanya konsumen memilih gerai yang paling dekat dengan rumah mereka.
2)      Ancaman Pendatang Baru
Ancaman Pendatang baru bagi Perusahaan Retail seperti 7 Eleven memang makin banyak terlihat tetapi sangat lemah. 7 Eleven sendiri adalah ancaman baru bagi perusahaan-perusahaan retail yang ada di Indonesia seperti Indomaret dan Alfamaret karena 7 Eleven selain menjual Produk sehari-sehari tetapi juga menjual menu-menu makanan dan minuman yang bisa dimakan langsung. Untuk pendatang baru sangat susah untuk masuk ke industri ini karena dibutuhkan diferensiasi produk yang berbeda untuk menarik konsumen. Untuk memikirkan dan melakukan diferensiasi produk dibutuhkan biaya yang besar. Loyalitas konsumen juga bermain disini . apabila konsumen sudah jatuh hati terhadap 1 produk , maka pendatang baru akan kesulitan dan menjadi penghalang besar. Investasi yang besar juga sangat dibutuhkan bagi pendatang baru.
3)      Ancaman Produk Pengganti
Ancaman Produk pengganti sendiri sangat kuat karena di Indonesia sendiri perusahaan retail sangat berkembang dengan keanekaragaman produk. 7-Eleven bisa juga bersaing dengan restaurant karena sama-sama menjual produk menu-menu makanan dan minuman yang lebih banyak dan beragam menunya. Retail-Retail kecil seperti warung menjadi ancaman karena lebih dekat dengan rumah dan ada dimana-mana. Atau pasar yang harganya lebih murah dan produknya beragam bisa menjadi barang subtitusi. Produk seperti makanan , minuman, peralatan rumah tangga dijual di pasar tradisional. Bisa jadi Konsumen akan lebih memilih pasar tradisional karena selain semua produk ada disana . harganya pun bisa di tawar.
4)      Daya Tawar Pemasok
Bisa dikatakan daya tawar pemasok adalah lemah. Karena 7 eleven adalah Perusahaan waralaba retail jadi pemasok/supplier nya sudah ditentukan dari mana saja datangnya. 7 eleven tidak bisa menentukan sendiri suppliernya karena sudah di tentukan oleh PT. Modern Putra Indonesia. Dengan produk yang beragam dari kebutuhan rumah tangga, makanan, minuman , ini menjadikan 7 eleven salah satu “convenience store” yang baik di Indonesia.
5)      Daya Tawar Pembeli
Bisa dikatakan daya tawar pembeli lumayan kuat.  7 eleven menjual kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan konsumen . tetapi 7 eleven sudah menetapkan harga yang tidak bisa ditawar tetapi tidak terlalu mahal , 7 Eleven harus tau harga dikarenakan rata-rata masyarakat Indonesia sangat sensitive terhadap harga. tetapi dengan fasilitas yang disediakan dan pelayan yang baik 7 eleven  mampu menarik pembeli terutama anak muda. Karena 7 Eleven adalah perusahaan retail waralaba maka harganya sudah ditentukan. Dan tidak ada perbedaan di gerai 7 eleven manapun.



3 Generic Strategies Porter

3 generic strategies porter, adalah suatu gagasan yang dikemukakan oleh Michael Porter yang menjelaskan 3 jenis strategi yang umum digunakan perusahaan dalam mencapai dan menjaga keunggulan kompetitifnya. Pada awalnya ia mengelompokkan strategi keunggulan kompetitif tersebut menjadi kubus-kubus dengan dimensi 3x3x3 yang dibagi berdasarkan level perbedaan, biaya produk relatif, dan cakupan target pasar. Namun dari 27 strategi yang terbuat sebelumnya, ditemukan terdapat banyak terdapatkan strategi yang tidak wajar dan/atau tidak dapat diterapkan. Maka kemudian dikemukakanlah 3 generic strategies for Competitive Advantages ini dimana strategi keunggulan kompetitif hanya dibagi menjadi 2 dimensi, dilihat dari cakupan target pasar, dan cara penerapan strategi pemasaran. Dan hasilnya membuahkan 3 buah strategi seperti yang ditunjukkan oleh gambar berikut.


Differentiation Strategy adalah suatu strategi dimana perusahaan berusaha meningkatkan keunggulan kompetitifnya dengan menciptakan perbedaan antara produk dari perusahaan dengan produk-produk dari perusahaan saingan. Ada juga keadaan dimana strategi ini akan lebih baik diterapkan jika target pelanggan merupakan golongan-golongan yang tidak sensitif dengan harga, pelanggan memiliki kebutuhan yang sangat spesifik sehingga tidak dapat dipenuhi perusahaan lainnya, dan sebagainya.

Cost Leadership Strategy adalah suatu strategi dimana perusahaan berusaha meningkatkan keunggulan kompetitifnya dengan menciptakan perbedaan harga antara produk-produknya dibandingkan perusahaan lainya. Terdapat keadaan dimana strategi ini akan lebih efektif jika diterapkan pada target pelanggan yang tergolong sebagai yang sensitif terhadap harga. Strategi ini dapat tercapai dengan memiliki harga termurah pada segmen pasar, maupun memiliki perbandingan harga terhadap nilai produk yang paling rendah (perbandingan antara harga dengan apa yang diterima pelanggan).

Segmentation Strategy adalah suatu strategi yang meningkatkan keunggulan kompetitif dengan menerapkan kedua strategi sebelumnya bukan pada pasar secara umum, namun untuk segmen pasar yang lebih kecil dan spesifik.

Strategi yang diterapkan oleh Seven Eleven untuk mendapatkan suatu keunggulan kompetitif menurut kelompok kami adalah dengan menerapkan Differentiation Strategy karena dari yang dapat kita lihat, Seven Eleven harga-harga produk yang dijual di Seven Eleven tergolong menengah ke atas, namun produk-produk yang dapat ditemukan di Seven Eleven tergolong unik dan tidak mudah untuk ditemukan di gerai-gerai lainnya. Contohnya adalah produk minuman yang menjadi karakteristik dari gerai Seven Eleven yaitu “Slurpee” dan “Big Gulp”. Produknya unik, tidak mudah ditemukan di gerai lainnya, dan harga-harganya tidak ditargetkan untuk murah.




Kamis, 11 April 2013

CLASS DIAGRAM (Business Driven Technology)


Alur : Sebuah Supermarket A ingin menjual barang kepada pelanggannya. Barang – Barang yang dijual akan diatur dan dicatat oleh Bagian Penjualan .Disini Bagian Penjualan adalah Kasir. Kasir akan membuat Form Penjualan yang berisi catatan tentang barang yang dibeli oleh pelanggan. Lalu Dari Form Penjualan itu akan dibuat bukti pembayaran 2 rangkap yang diberikan ke pelanggan dan disimpan. Lalu bukti pembayaran yang sudah terkumpul dari hasil penjualan barang akan dibuat laporan penjualan yang nantinya akan diberikan ke manager.

Prosedur :
1)      Buat Table Form_Penjualan yang menjadi pusat penjualan yang terhubung ke banyak table. Atributnya ada ID_Form_Penjualan dan Tanggal_Form_Penjualan dan juga Berisi Primary Key dari table lainnya seperti Table Pelanggan yaitu ID_Pelanggan , Table Barang yaitu ID_Barang dan Table Kasir yaitu ID_Kasir.
2)      Buat Table Pelanggan yang dihubungan ke Table Form_Penjualan. Pelanggan adalah orang yang mau membeli barang di supermarket. Atribut nya ID_Pelanggan, Nama_Pelanggan, Alamat, No.Telepon dan Email.
3)      Buat Table Barang yang dihubungkan ke Table Form_Penjualan. Tetapi di antara Table Barang dan Table Form_Penjualan ada Table Detail_Barang. Saya membuat Table Detail_Barang karena barang yang dijual bermacam-macam jenis, seperti elektronik , peralatan rumah tangga, sampai sayuran , buah dan makanan lainnya. Atribut dari Table Barang adalah ID_Barang. Nama_Barang, Jenis_Barang, Stock dan Harga. Dan Atribut dari Table Detail_Barang adalah ID_Barang dan ID_Form_Penjualan.
4)      Buat Table Kasir yang dihubungkan ke Table Form_Penjualan. Kasir adalah orang yang mencatat barang apa saja yang akan dibeli oleh pelanggan. Atribut dari kasir adalah ID_Kasir, Nama_Kasir dan Jenis kelamin.
5)      Buat Table Bukti_Pembayaran yang dihubungkan ke Table Form_Penjualan.  Kasir yang membuat bukti pembayaran ini, sebanyak 2 rangkap. Yang nantinya diberikan ke pelanggan dan disimpan sebagai bahan membuat laporan penjualan. Atributnya adalah ID_Bukti Pembayaran, Total_Pembayaran, Jenis_Pembayaran, dan Tanggal_Pembayaran. Primary Key nya adalah dari Table Form_Penjualan yaitu ID_Form_Penjualan.
6)      Buat Table Laporan_Penjualan yang dihubungkan ke Table Form_Penjualan , Berisi Semua Barang yang sudah di jual ke pelanggan yang di ambil dari bukti pembayaran. Yang nantinya akan diberikan kepada manager. Atributnya adalah ID_Laporan_Penjualan dan Tanggal Laporan_Penjualan . Primary Key nya adalah dari Table Bukti_Pembayaran yaitu ID_Pembayaran.
7)      Tambahkan Multiplicity pada Masing-masing Table. Hubungan nya antara (1..1) dan (1..*)

Kamis, 28 Maret 2013

Isu-Isu Seputar BPR dan Evolusi BPR untuk E-Business

1. Pengertian BPR :
BPR atau Reengineering Proses Bisnis secara umum didefinisikan sebagai pemikiran ulang
secara fundamental dan mendesain ulang proses bisnis untuk meraih perbaikan dramatis
dalam ukuran performansi yang kritis seperti ongkos, servis dan kecepatan (Hammer dan
Champy, 1993). Kunci dari definisi diatas adalah fundamental, radikal dan dramatis, yang
membedakan reenginering dari metode perbaikan yang lain (continous improvement dan
benchmarking). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kertas
bersih.

2. FIRST AND SECOND WAVES OF BPR
Gelombang Pertama :
- Ruang Lingkup, Kesuksesan dan State of BPR
- Metodologi BPR dan Teknologi Informasi
- Masalah-masalah dalam BPR
Gelombang Kedua :
- BPR dan Supply Chain Management (SCM)
- BPR dan Knowledge Management (KM)
- BPR dan Web Enabled e-Business

3. Evolusi BPR :



















4. Web-enabled e-Business dan Gelombang ke-2 BPR :
BPR untuk e-Business mendesain ulang baik perusahaan dan proses penawaran di Internet, yaitu ciri-cirinya:
~Urgensi akan meningkat.
~Perubahan model bisnis.
~Peluang untuk info.
~Ubiquity akan meningkat.
~Proses pelaksanaan BPR akan berubah untuk mengambil keuntungan dari Internet.

5. Empat Tahap Evolusi E-business
Tahap Inform
Pada tahap awal ini, yang biasanya terjadi adalah adanya unit-unit kecil di dalam perusahaan yang mulai mencoba membangun program-program kecil (software) berbasis internet. Contohnya adalah pengembangan homepage yang menampilkan profil organisasi di internet, atau membangun website yang isinya adalah produk-produk dan jasa-jasa yang ditawarkan perusahaan kepada pelanggannya, atau sebuah situs yang berisi berita-berita mutakhir di bidang tertentu yang berkaitan dengan tugas sebuah unit perusahaan, dan lain-lain.

Tahap Automate
Tahap berikutnya adalah mencoba untuk mengintegrasikan beberapa unit di dalam perusahaan yang masing-masing telah mengimplementasikan konsep kecil e-business. Yang menjadi dasar penggabungan modul-modul ini biasanya adalah sebuah rangkaian proses yang saling berhubungan. Contohnya adalah proses pengajuan anggaran dari masing-masing unit ke divisi keuangan. Melalui aplikasi atau modul situs yang lebih dinamis (berbasis database), setiap unit memasukkan rencana anggarannya ke dalam sebuah aplikasi dan bagian keuangan secara otomatis menerima konsolidasi anggaran dari seluruh unit yang ada di perusahaan.

Tahap Integrate
Tahap selanjutnya dari pengembangan aplikasi e-business adalah mengintegrasikan proses bisnis perusahaan dengan perusahaan atau entiti-entiti lain yang ada di luar perusahaan. Bedanya dengan automate yang lebih menekankan pada target efektivitas, pada integrate tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan dan mengembangkan kinerja perusahaannya secara signifikan. Level integritas proses bisnis antara perusahaan dengan pihak luar pada tahapan ini sangat tinggi; bahkan tidak jarang dibutuhkan suatu manajemen integrasi proses bisnis yang online dan real-time. Contoh yang kerap dipakai untuk mengilustrasikan tahap ini adalah aplikasi “package delivery tracking” yang dimiliki Federal Express maupun DHL yang memungkinkan pelanggan melalui komputernya (internet) melacak status pengiriman paketnya (yang bersangkutan dapat mengetahui posisi terkini dari paket yang dimaksud).

Tahap Reinvent
Tahap terakhir di dalam evolusi dapat secara efektif diimplementasikan jika ada perubahan paradigma mendasar dari manajemen perusahaan, terutama yang berkaitan dengan cara mereka melihat bisnis yang ada. Tahap ini dinamakan sebagai “reinvent” karena perusahaan yang telah memiliki pengalaman sukses menerapkan konsep e-business pada tiga tahap sebelumnya ditantang untuk mendefinisikan ulang mekanisme dan model bisnisnya dengan berpedoman pada peluang-peluang usaha baru yang ditawarkan oleh e-business. Lihatlah bagaimana perusahaan retail dan distribusi merubah total bisnisnya menjadi penyedia jasa informasi (portal) sehubungan dengan consumer products yang ditawarkan, atau perusahaan pembuat perangkat lunak aplikasi internet yang meredifinisikan ulang usahanya menjadi perusahaan outsourcing di bidang Customer Relationship Management, atau perusahaan penjual buku-buku asing yang berubah menjadi perusahaan penterjemah bahasa-bahasa asing, dan lain sebagainya.

6. Pemicu dan Target Proses BPR:
~Pemicu:
Ketidakpuasan pelanggan / tekanan kompetitif
Biaya yang tinggi / keuntungan berkurang
Panjang siklus waktu
~Target proses :
-Sangat terstruktur
-Mudah didukung oleh IT
-Langsung berdampak pada pelanggan.


7. Kesalahan Dalam Business Process Reengineering

Implementasi BPR yang menghasilkan perubahan dramatis dalam proses bisnis bisa memiliki resiko kegagalan yang tinggi. Resiko ini timbul karena dalam implementasi BPR seringkali perusahaan melakukan beberapa kesalahan sebagai berikut :

1. Reengineering too many processes
Karena ingin meniru keberhasilan perusahaan lain dalam melakukan BPR, maka perusahaan melakukan BPR pada banyak proses sekaligus. Kurangnya fokus pada satu proses dan munculnya masalah-masalah yang tidak diperkirakan sebelumnya akan mengakibatkan kekacauan, yang akhirnya membuat perusahaan terjebak dan tidak mendapatkan ide yang inovatif dan perbaikan yang besar. Analisa mendetil yang telah dilakukan sebelum proses reengineering menjadi sia-sia dan perusahaan akhirnya gagal dalam proses reengineering.
2. Delay in showing result
Hammer dan Stanton menyatakan, “Sejak anda mulai memikirkan proses sampai anda mendapatkan benefitnya untuk dipertunjukan, seharusnya semua itu tidak lebih dari 12 bulan.” Hal ini tidak berarti bahwa seluruh proses telah selesai, melainkan untuk menunjukan perkembangan yang terjadi dan menuju ke level yang lebih tinggi. Keterlambatan menunjukan hasil dapat memberikan kesan bahwa implementasi BPR itu gagal. Karena itu penting untuk semua pihak yang terkait dalam proses reengineering (CEO, leader, process owners, dan reengineering team) untuk menjaga motivasi dan tidak terlepas dari proses reengineeringdengan menunjukan sukses yang dicapai.
3. Discontinuance after achievement
Perusahaan cenderung tidak melanjutkan proses reengineering saat mereka sudah mencapai benchmark yang diinginkan. Padahal seharusnya perusahaan menerapkan ide Kaizen, yaitu fokus pada continuous improvement (seperti tahapan-tahapan BPR di atas yang merupakan siklus yang berkelanjutan). Karena itu adalah tugas dari leader untuk memotivasi dan memastikan improvementselanjutnya, meskipun perusahaan sudah mencapai goal-nya.



8. Solusi : BPR harus dilakukan dengan cara yang benar
Untuk menghindari kesalahan yang dapat mengakibatkan kegagalan dalam implementasi BPR, maka sebaiknya BPR dilakukan dengan beberapa syarat/kondisi sebagai berikut :
1. BPR dipersiapkan dengan strategic planning, dimana IT menjadi penunjang utama dan terintegrasi dengan proses reengineering sejak awal.
2. BPR harus bersumber dari perusahaan sendiri, bukan berasal dari grup atau konsultan diluar perusahaan. 
3. BPR harus didukung oleh Top Executives perusahaan.
4. BPR harus memiliki timetable, dimana idelnya adalah antara 3 sampai 6 bulan.
5. BPR tidak menghilangkan corporate culture dan harus menekankan pada komunikasi dan feedback yang konsisten.
Dengan demikian, perusahaan yang melakukan BPR akan mendapatkan perubahan yang dramatis dalam performance biaya, kualitas, service dan kecepatan-nya. 

Sumber :
-Slide BinusMaya
-Google






Senin, 07 Januari 2013

Smart Card

Kemajuan teknologi saat ini membuat kita harus berpikir lebih untuk memanfaatkan semua fasilitas yang telah disediakan dan atau menciptakan yang lebih baik dari yang telah ada. Pesatnya penggunaan internet saat ini dapat kita manfaatkan untuk lahan berbisnis yang  subur, atau yang disebut dengan e-Commerce.

Masih banyak nya kendala-kendala yang muncul membuat orang terkadang kurang tertarik untuk berbelanja ataupun membeli melalui e-Commerce.
Beberapa kendalanya:
1.Kurangnya kepercayaan konsumen.
2.Pembayaran yang sulit dilakukan misalnya, menggunakan bank hanya senin- jumat (bagi yang tidak memiliki ATM), atau lokasi ATM yang jauh dari rumah.
3.Kesulitan memperoleh informasi tentang ongkos kirim.

Smart terdiri dari beberapa jenis :
1. Memory cards, jenis ini berfungsi untuk menyimpan data, tidak memiliki processor atau sistem keamanan yang canggih hanya memiliki perlindungan fisik.
2. Memory protected cards, jenis ini mempunyai sistem keamanan yang lebih canggih daripada memory cards, misalnya adanya password untuk mengakses smartcard.
 3. Microprocessor cards, jenis ini memiliki processor sehingga dapat melakukan komputasi walaupun terbatas,misalnya mengorganisasikan file yang dilindungi password.
4. Java cards, jenis ini dilengkapi Java Virtual Machine sehingga dapat berbagai program dimasukkan kedalamnya.
5. Public key cards, jenis ini mendukung public key cryptography (kriptografi asimetris) jadi proses enkripsi/dekripsi dapat dilakukan secara internal dan dapat menyimpan key.

Penggunaan smartcard pada transaksi E-Commerce adalah sebagai berikut:
Pada saat pembeli melakukan tranksaksi di sebuah situs E-Commerce, ia akan menyerahkan kartu kreditnya kepada penjual(Virtual Point of Sale). Penyerahan kartu kredit tidak dilakukan secara fisik, tetapi melalui smartcard (Virtual/Physical Smart Card). Melalui smartcard pembeli akan mengirimkan informasi tentang kartu kredit yang dibutuhkan oleh penjual, lalu selanjutnya akan dilakukan otorisasi oleh bank (Virtual Acquirer/Payment Gateway) terhadap informasi yang diperoleh penjual, kemudian penjual akan mengirimkan jumlah tranksasi yang dilakukan pembeli kepada bank. Dan oleh pihak bank akan dikeluarkan tagihan bagi kartu kredit pembeli yang kemudian dibayarkan ke pihak penjual. Saat mengiriman informasi kartu kredit dengan smartcard kemanannya sudah terjamin, sebab smart card yang digunakan sudah memiliki Certification Authority (CA) atau pengabsahan digital tertentu, dimana CA ini nantinya akan memeriksa sertifikat digital dimana private key “direkatkan” yang gunanya untuk mendeskripsikan informasi kartu kredit yang dikirimkan pembeli.

Bahkan kini untuk mempermudah transaksi smart card untuk E-Commerce telah tersedia dalam bentuk software yaitu Virtual Smart Card. Dengan virtual smartcard, pembeli tidak perlu mengetikkan nomor kreditnya setiap kali melakukan transaksi, namun hanya tinggal menjalankan software ini, dengan menekan satu tombol tertentu saja.

Keunggulan smart card, antara lain:
kemudahan mengakses data, keamanan menyimpanan data, perlindungan data dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, serta fleksibilitas untuk dibawa dengan mudah dalam kegiatan sehari-hari.

Keterbatasan smartcard saat ini adalah dalam hal memori, tetapi tidak tertutup kemungkinan daya tampung memory smartcard akan bertambah besar nantinya, sehingga dapat menyimpan dan mengenkripsi data dalam jumlah yang lebih banyak.

Kelebihan smartcard, bagi masyarakat pengguna jasa E-Commerce (pembeli) dengan adanya smartcard sangat menolong saat melakukan transaksi sebab keamanan lebih terjamin. Sedangkan bagi penjual, teknologi smartcard akan meningkatkan tingkat kepercayaan konsumen terhadap situs E-Commerce yang dikelolanya.

Kekurangan smartcard, saat ini masih mahal dan digunakan oleh kalangan tertentu saja, sehingga teknologi ini masihbelum dikenal oleh masyarakat luas.

Contoh Smart Card :
Tampak Depan












Tampak Belakang










Sumber : /http://epolebusiness.wordpress.com/2008/06/04/smart-card-dalam-e-commerce/
http://www.creativesolutionsaward.com/csa2/index.php?o=view/scc__smart_card_e-commerce_

Fungsi dan Tujuan e-Procurement

Di tahun 2012 ini Pemerintah akan mengharuskan seluruh/sebagian pengadaan barang dan jasa diselenggarakan melalui E-Procurement seperti yang tertuang dalam PERPRES 54/2010 Pasal 131 Ayat (1), ini berlaku untuk Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Kementerian, maupun BUMN.

e-Procurement adalah suatu proses pengadaan barang dan jasa secara online melalui internet, proses ini akan menjadi transparan dan dapat mudah diawasi oleh masyarakat sehingga proses pengadaan barang dan jasa Pemerintah akan adil (fair).
Pemilihan penyedia barang dan jasa dengan menggunakan sistem e-Procurement diaplikasikan untuk mewujudkan tujuan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah yang efektif, efisien, transparan, adil atau tidak diskriminatif dan akuntabel.

Dari arti diatas maka Pengadaan Barang/Jasa milik Pemerintah akan diadakan melalui Electronik mulai dari pengumuman lelang, pendaftaran penyedia, pengiriman biodata perusahaan penyedia, penawaran dan pengumuman pemenang.

Dengan E-Procurement ini diharapkan akan menjadi suatu proses yang akan mempermudah kinerja Panitia, Penyedia maupun Masyarakat pada umumnya, dan meminimalkan Pengadaan Barang/Jasa yang tidak sehat seperti mengitimidasi Panita Pengadaan Barang/Jasa dan berkolusinya panitia dengan penyedia seperti yang sudah atau sering terjadi sebelumnya juga menghindarkan berkumpulnya peserta penyedia dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Fungsi e-Procurement
-  Mewujudkan prinsip-prinsip pengadaan barang dan jasa secara lebih nyata
-  Penawaran yang masuk lebih banyak
-  Lebih aman (termasuk jaminan keamanan data)
-  Mengurangi benturan dan hambatan fisik

Fungsi e-Procurement bagi Panitia :
1.  Mendapatkan penawaran yang lebih banyak
2.  Mempermudah proses administrasi
3.  Mempermudah PPK/Panitia Pengadaan dalam mempertanggungjawabkan proses pengadaan

Fungsi e-Procurement Bagi Penyedia :
1.  Menciptakan persaingan usaha yang sehat
2.  Memperluas peluang usaha yang sehat
3.  Membuka kesempatan pelaku usaha
4.  Membuka kesempatan pelaku usaha mengikuti lelang
5.  Mengurangi biaya transportasi untuk mengikuti lelang

Fungsi e-Procurement Bagi Masyarakat :
1.    Memberi kesempatan masyarakat luas untuk mengetahui proses pengadaan.

Saya mengambil contoh pemerintah kota Denpasar melakukan E-procurement, Tujuan yang dicapai oleh Pemerintah Kota Denpasar dengan mengimplementasikan program E-Procurement :
•    meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengadaan barang/jasa pemerintah
•    meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengadaan barang/jasa pemerintah
•    memudahkan sourcing dalam memperoleh data dan informasi tentang barang/jasa dan penyedia barang/jasa
•    menjamin proses pengadaan barang/jasa pemerintah berjalan lebih cepat dan akurat
•    menjamin persamaan kesempatan, akses dan hak yang sama bagi para pihak pelaku pengadaan barang/jasa
•    menciptakan situasi yang kondusif agar terjadi persaingan yang sehat antar penyedia barang/jasa
•    menciptakan situasi yang kondusif  bagi aparatur pemerintah dan menjamin terselenggaranya komunikasi online untuk mengurangi intensitas pertemuan langsung antara penyedia barang/jasa dengan panitia pengadaan dalam mendukung pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme

Sumber : http://www.detiknas.org/index.php/flagship/c/10/
http://eprocdenpasarkota.wordpress.com/tujuan-dan-manfaat-e-procurement/
tmm999.blogspot.com/2012/03/mengenal-e-procurement.html